Senin, 26 Agustus 2019



Keterpelihara’an Al-Qur'an

"Supaya Dia mengetahui bahwa sesungguhnya Rosul-Rosul itu telah menyampaikan risalah-2 Tuhannya, sedang sebenarnya ilmu-Nya meliputi apap yang ada  pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu."
(al-_Jinn 72: 28).
 
Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan hitungan-al­adad: peredaran bintang, keseimbangan alam semesta, pemben­tukan manusia, atom, kuantum mekanik, dan bahkan ayat-ayat dalam Al-Qur'an sendiri. Mereka terstruktur dengan hitungan yang sistematis dan teliti.
 
AI-Qur'an dalam bahasa Arab berarti "pembaca’an". Al-Qur’an mungkin kitab yang paling banyak di baca di dunia. Per­lu di ketahui, sesungguhnya kata Kitab Suci tidak ada di Al-Qur'an. Yang ada adalah sebutan Kitab Mulia, Kitab Agung, Kitab Pemurah, dan lainnya. Kitab Suci di kenal karena media, terpengaruh sebutan kitab suci lainnya. Kesempurna’an dalam bahasa tidak dapat di tentang oleh para pujangga. Bahasa dan makna di padukan. Irama, keselarasan melodi, ritmenya menghasilkan sebuah efek hipnotis yang kuat.1 Barangkali bagi orang awam, kandungan Al-Qur’an sulit di mengerti, karena ia tidak di mulai secara kronologis ataupun narasi-narasi sejarah seperti halnya kitab Yahudi. Ia juga tidak mendasarkan teolo­ginya dalam cerita-cerita dramatis sebagaimana epik-epik India. Tidak pula Tuhan di ungkap dalam bentuk manusia sebagai­mana dalam Bibel dan Bhagavad Gita. Ia berbicara langsung soal pendidikan-sebagaimana sering di kemukakan oleh para penulis modern-berbicara mengenai membaca, mengajar, memahami dan menulis2 (al-'Alaq 96 : 1-5). Di dalam Al-Qur'an sendiri ada pemakaian kata "Al-Qur'an" dalam arti baca’an, sebagaimana tersebut dalam ayat 17,18 Surat 75 al-Qiyamah:
 
"Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur'an (dalam dadamu) dan (menetapkan) baca’annya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu), jika Kami telah membacakannya maka ikutilah ba­ca’annya."
 
Kata pertama di dalam Al-Qur’an dan Islaam adalah sebuah perintah yang di tujukan kepada Nabi, yang secara linguistik menunjukkan bahwa penyusunan teks Al-Qur'an berada di luar kewenangan Muhammad saw. Gaya serupa ini tetap di perta­hankan di sepanjang Al-Qur'an. Ia berbicara kepada atau ten­tang Nabi dan tidak mengizinkan Nabi berbicara atas kehen­daknya sendir.3 Al-Qur'an menggambarkan dirinya sendiri sebagai sebuah kitab yang "di turunkan" Tuhan kepada Nabi; ungkapan kata "di turunkan" atau anzalna dalam berbagai bentuk di gunakan lebih dari 200 kali. Secara intrinsik, ini berarti bahwa konsep dan isi Al-Qur'an benar-benar di turunkan dari langit. Sebagaimana dalam beberapa ayat yang lain, Tuhan juga menurunkan besi, mizan (ke adilan, keseimbangan, harmoni) dan 8 pasang binatang ternak. Al-Qur'an di turunkan secara bertahap dalam berbagai peristiwa yang memakan waktu 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Ia di kutip langsung dari catatan di Lauh Mahfuzh, yang berarti Kitab Utama atau bermakna "Pusat Arsip".4
 
Al-Qur'an berpandangan bahwa baca’an tersebut tersusun rapi, sempurna dan tidak ada yang ketinggalan. Ia dalam peng­gambarannya sangat unik. Nabi pun kadang-kadang di kritik dan di tegur dalam beberapa peristiwa. Al-Qur'an juga selalu menyisipkan ayat-ayat tertentu, seperti "intan yang berkilauan", dalam pelajaran metafisisnya. Ia mendesak pembaca agar menggunakan kemampuan intelektualnya, mengenali isyarat ­isyarat ilmiah berupa "intan yang berkilauan", tanda-tanda kebesaran Pencipta melalui alam semesta, sumber Metafisis Tertinggi. Muslim modern mengatakan ada sekitar 900 ayat yang memuat tanda-tanda ini, dari total 6.236 ayat. Hanya 100 ayat yang berbicara persoalan peribadatan, dan puluhan ayat yang membahas masalah-masalah pribadi, hukum perdata, hukum pidana, peradilan dan kesaksian.5 Al-Qur'an berbeda cara pe­nyajiannya, bisa saja membahas masalah ke imanan, moral, ritu­al, hukum, sejarah, alam, antisipasi masa mendatang, secara sekaligus dalam satu surat. Ini memberikan daya persuasi yang lebih besar, karena semua berlandaskan ke imanan kepada Tuhan Yang Esa dan Hari Akhir. Jumlah surat dalam Al-Qur'an ada 114, nama-nama tiap surat, batas-batas tiap surat dan susunan ayat-ayatnya merupakan ketentuan yang di tetapkan dan di ajarkan oleh Nabi sendiri.
 
Sejarah Ringkas Pemeliharaan Al-Qur'an
 
Pada awal Islaam, bangsa Arab adalah bangsa yang buta huruf, hanya sedikit yang pandai menulis dan membaca. Bahkan beberapa di antaranya merasa aib bila di ketahui pandai menulis. Karena, orang yang terpandang pada saat itu adalah orang yang sanggup menghafal, bersyair, dan berpidato. Waktu itu belum ada "kitab". Kalaupun ada hanyalah sepotong batu yang licin dan tipis, kulit binatang, atau pelepah korma yang di tulis. Termasuk kutub, jamak kitab, yang di kirim oleh Nabi kepada raja-raja di sekitar Arab, sebagai seruan untuk masuk Islaam.
 
Setiap kali turun ayat, Nabi menginstruksikan kepada para sahabat untuk menghafalnya dan menuliskannya di atas batu, kulit binatang dan pelepah korma. Hanya ayat-ayat Al-Qur'an yang boleh di tulis. Selain ayat-ayat Al-Qur' an, bahkan termasuk Hadits dan ajaran-ajaran Nabi yang di dengar oleh para sahabat, di larang untuk di tuliskan, agar antara isi Al-Qur'an dengan yang lainnya tidak tercampur.
 
Setiap tahun, Malaikat Jibril, utusan Tuhan mengulang (repetisi) membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang telah di turunkan sebelumnya di hadapan Nabi. Pada tahun Muhammad saw wafat, yaitu tahun 632 M, ayat-ayat Al-Qur' an di bacakan dua kali dalam setahun.6 Ini menarik sekali, karena seolah-olah akhir tugas dan kehidupan Nabi di dunia ini telah di antisipasi akan selesai.
 
Pada masa kholifah pertama, Abu Bakar, banyak terjadi peperangan melawan orang-orang yang murtad dan para nabi palsu. Di antara mereka yang gugur dalam peperangan banyak penghafal ayat-ayat Al-Qur'an. Umar bin Khoththob mengu­sulkan untuk mengumpulkan para penghafal Al-Qur'an, di su­ruh membacakan Al-Qur’an, menjadikan satu, meneliti dan menulis ulang. Kumpulan itu yang di tulis oleh Zaid bin Tsabit, mushaf, berupa lembaran-lembaran yang diikat menjadi satu, di susun berdasarkan urutan ayat dan surat seperti yang telah di tetapkan oleh Nabi sebelum wafat. Sedangkan pada masa Utsman bin Affan, tentara Muslim telah sampai ke Armenia, Azerbajan di sebelah Timur dan Tripoli di sebelah barat. Kaum Muslim terpencar di seluruh pelosok negeri, ada yang tinggal di Mesir, Syria, Irak, Persia dan Afrika. Naskah beredar di mana­mana, tetapi urutan surat dan cara membacanya beragam, se­suai dialek di mana mereka tinggal. Hal ini menjadikan perti­kaian antar kaum Muslim sehingga menjadikan kekhawatiran pemerintahan Utsman. Maka kemudian Utsman membentuk panitia untuk membukukan ayat-ayat Al-Qur'an dengan me­rujuk pada dialek suku Quraisy, sebab ayat Al-Qur'an di turun­kan dengan dialek mereka, sesuai dengan suku Muhammad saw. Buku tersebut di beri nama Al-Mushaf, ditulis lima kopi dan di kirimkan ke empat tempat: Mekkah, Syria, Bashrah, dan Ku­fah. Satu kopi di simpan di Medinah sebagai arsip dan di sebut Mushaf al-Imam.
 
Walaupun telah di satukan dan di seragamkan, namun tetap cukup banyak Al-Qur'an di Afrika dengan dialek berbeda, ter­masuk jumlah ayat yang "berbeda" karena perbedaan mem­baca dalam pergantian nafas (6.666 ayat), tetapi isinya tetap sama. Awalnya, pada zaman Nabi, Al-Qur'an memakai dialek Quraisy, tetapi kemudian berkembang menjadi tujuh dialek non-Quraisy. Pada mulanya, ini di maksudkan agar suku-suku lain lebih mengerti. Ada juga aliran tersendiri (kelompok kecill, pimpinan Dr. Rashad Khalifa, kelahiran Mesir, seorang ahli biokimia dan matematika, yang mempromosikan jumlah ayat 6.234, berbeda 2 ayat dengan naskah Ustman, 6.236 ayat.7 Sedangkan mayoritas Muslim, baik Sunni maupun Syi ah tetap berpegang teguh pada naskah awal yang di kumpulkan semasa Khalifah Ustman, yaitu dialek Quraisy, hingga kini. Perbeda’an kecil ini, menjadi sasaran kritik para Orientalis, bahwa al-Qur’ an tidak asli lagi, karena telah ada campur tangan manusia dalam transmisinya. Walaupun demikian, sebagian di antara mereka, seperti Gibb, Kenneth Cragg, John Burton, dan Schwally dalam bukunya Mohammedanism, The Collection of the Qur’an , The Mind of the Qu'ran, dan Geschichte des Qorans, mengakui bahwa "sejauh pengetahuan kita, kita bisa yakin bahwa teks wahyu telah di­ transmisikan sebagaimana apa yang telah di berikan kepada Nabi".8

Mushaf  Utsmani Di Simpan Di Mana?

Banyak pertanyaan, di mana copy yang di berikan oleh Kho­lifah Utsman disimpan?
Apakah masih ada?
Menurut penje­lasan The Institute of Islamic Information and Education of America,9 naskah tadi di simpan di Museum Tashkent di Uz­bekistan, Asia Tengah. Sedangkan hasil copy fax ada di Perpus­taka’an Universitas Columbia di Amerika Serikat.10 Keterangan lebih lanjut menjelaskan bahwa copy tersebut sama dengan apa yang di miliki pada zaman Nabi. Duplikat copy yang di kirimkan ke Syria pada masa Utsman juga masih ada di Topkapi Museum Istambul, duplikat ini di buat sebelum terjadi kebakaran pada tahun 1892 yang menghancurkan mesjid Jami, di mana mushaf tersebut berada. Naskah yang lebih tua bisa di temukan di Dar al-Kutub, Kesultanan Mesir. Sangat menarik, terdapat naskah yang di simpan di Perpustakaan Kongres di Washington, Ches­ter Beatty Museum di Dublin (Irlandia) dan Museum di Lon­don-isinya tidak berbeda dengan apa yang terdapat di Mesir, Uzbekistan dan Syria. Sebelumnya juga terdapat 42.000 koleksi naskah kuno di simpan Institute for Koranforshung, University of Munich di Jerman. Namun, ketika Perang Dunia II, koleksi ini hancur karena di bom.11 Sejauh ini, berkat upaya para sahabat Nabi dan atas pertolongan Tuhan Yang Maha Esa, isi Al-Qur'an, sejak zaman Nabi hingga sekarang tetap sama. Namun demi­kian, pertanya’an lainnya muncul. Jika ini semua otentik sesuai dengan aslinya, bagaimana kita yakin bahwa Al-Qur'an berasal dari "Sumber Metafisis Tertinggi"?12 Sebagian besar kaum Mus­lim sangat yakin bahwa Al-Qur'an adalah asli dari Tuhan, karena al-Qur'an sendiri yang mengatakan demikian; misalnya saja, Surat an-Nisa' (4:82); al-An'am (6:19); (6:92); an-Naml (27:6); al-Jatsiyah (45:2).13 Sebagian Muslim lainnya baru percaya setelah membaca dan memahami isinya dengan baik, berpikiran jernih, dan mau membuka hati dengan hal-hal yang baru. Tetapi dapat di pahami pula, karena "sumbernya dari dalam", bagi urang luar yang skeptis, pendapat apa saja di mungkinkan. Oleh karena itu, bagi orang luar, bukan kalangan Muslim atau siapa sajn, pilihannya adalah salah satu dari lima kemungkinan yang "mengarang Al-Qur'an".

Pertama
, Nabi Muhammad saw.
Ke Dua
, para pujangga-ilmuwan Arab dan kumpulan cerita dari berbagai sumber.
Ke Tiga
, merupakan jiplakan dari kitab suci Injil dan Taurat.
Ke Empat
, buatan makhluk asing.
Dan ke Kima, dari Tuhan.

Al-Qur' an berpandangan bahwa tidak ada paksa’an dalam beragama. Ia mengatakan bahwa percaya atau tidaknya seseorang terhadap isi Al-Qur'an, semata-mata karena hidayah Allooh. Hidayah di berikan bagi yang mau berpikir jernih dan berprasangka baik.

S
ebagian Muslim makin percaya karena faktor-faktor eksternal, bukan hanya karena pernyataan Al-Qur'an saja. Mereka berpikir begini.

Pertarma, Muhammad saw terkenal karena kujujurannya, dapat di percaya, dan bukan orang yang pandai membaca dan menulis. Di lain pihak, gaya bahasa Al-Qur'an sangat berlainan dengan gaya bahasa Nabi ketika bertutur. Al-Qur'an selalu memakai gaya yang unik, di mulai dengan "Katakanlah", "Ingatkah", "Tuhan berkata", "Mereka bertanya", dan sebagainya.

Ke Dua
, ada puluhan surat dan ayat yang di mulai dengan huruf-huruf Arab, yang pada awalnya tidak di ketahui maknanya. Huruf sisipan atau fawatih. Huruf-huruf ini tidak ada perlunya jika "makhluk biasa" yang membuat, karena tidak
di mengerti oleh pembacanya hingga berabad-abad lamanya, membuat bingung.

Ke Tiga, sesuatu yang menarik lainnya, bahwa nama Muhammad hanya empat kali di sebut dalam Al­Qur an. Nama Adam as dan Isa AS jauh lebih banyak di sebut. Mereka di sebut oleh Al-Qur'an masing-masing 25 kali. Bahkan nama Musa as paling banyak di sebut.

Ke Empat, cerita atau ung­kapan sejarah serupa dengan cerita dalam kitab suci lainnya, namun sangat berbeda dalam detail dan maknanya. Beberapa kisah masa lalu, bahkan tidak di temukan dalam kitab Yahudi atau Bibel. Seperti kisah bangsa Tsamud, Ad, kota Iram, dialog antara Nuh AS dengan puteranya sebelum banjir terjadi, dan "percakapan semut yang di dengar Sulaiman AS".

Ke Lima, seruan Al-Qur'an bukan saja di tujukan kepada semua manusia (di bumi dan langit--planet dan alam lainnya), tetapi juga golongan Jin (beserta seluruh rasnya, seperti setan, Iblis, Ifrit, dan makhluk asing yang belum di ketahui manusia)
. Ayat-ayat ini tidak ada perlunya bila "makhluk biasa" yang membuat, apa manfa’at­nya?

Ke Enam, rincian tentang Malaikat, Jin, penciptaan (banyak) alam semesta dan (banyak) bumi, fenomena ilmiah, di mana pengetahuan manusia belum atau baru saja mengetahui.
14

Ke Tujuh, struktur kodetifikasi yang di temukan dalam Al-Qur'an, di mana ia mengatakan untuk menambah ke imanan bagi orang yang beriman dan membuat tidak ragu bagi pembaca Kitab ini (al-Muddatstsir 74
: 30).

Beberapa faktor eksternal tersebut menyebabkan sebagian kaum Muslim makin percaya bahwa Al-Qur'an kecil sekali ke­mungkinannya di buat oleh makhluk biasa, baik manusia mau­pun jin. Kita juga harus ingat, kaum Muslim lainnya, yang bukan Islaam karena "di lahirkan" - Islaam karena "pindah agama atau mendapatkan agama", mereka mempunyai alasan yang Iebih spesifik.
 
Mushaf Utsmani adalah satu-satunya kitab, di mana enkripsi dan kodetifikasi bilangan prima di temukan secara terstruktur, komprehensif, mulai dari yang paling sederhana hingga yang rumit.


Walloohu A’lam.

            ___/|\___
           ¨¨¨˜°♥°˜¨¨¨