Selasa, 27 Agustus 2019

Silsilah Hadits-Hadits Dho'if Pilihan-1



Silsilah Hadits-Hadits Dho'if Pilihan-1
(karya Syaikh al-Albany)
Mukaddimah:

Mengingat hadits Dho’if (Lemah) sangat banyak terpublikasi di tengah masyarakat awam dan bahayanya bagi ‘aqidah serta keberagama’an mereka, maka kiranya perlu di antisipasi dengan membongkar dan menyingkap hadits-hadits tersebut serta menjelaskan derajat (kualitas) nya sehingga umat menjadi melek karenanya.

Salah satu upaya yang patut di acungi jempol dan mendapat sambutan positif di kalangan Ulama Islaam kontemporer, adalah buah karya dari Syaikh al-‘Allamah, Nashiruddin al-Albany atau yang lebih dikenal dengan Syaikh al-Albany.
Yaitu, buku beliau yang berjudul Silsilah al-Ahâdîts ad-Dho’îfah yang merupakan matarantai hadits-hadits Dho’if (lemah), yaitu yang di kategorikan Bathil, Tidak ada dasarnya, Tidak Shohih, Dla’îf Jiddan (Lemah Sekali), Munkar, Mawdlu’ (Palsu).

Dengan di muatnya hadits-hadits tersebut di harapkan kepada kita agar menghindari pengguna’annya dan mencukupkan diri dengan hadits-hadits yang shohih saja.
Dalam hal ini, Syaikh al-Albany juga menulis buku yang lain yaitu Silsilah al-Ahâdîts ash-Shohîhah di mana selain hadits shohih yang di muat di dalam kitab ash-Shohîhain (Shohîh al-Bukhory dan Muslim), beliau juga telah menyaring dan menyeleksi hadits-hadits yang shohih saja di dalam kitab-kitab selain itu alias as-Sunan al-Arba’ah.

Tentunya, setiap upaya dan niatan yang baik perlu kita junjung dan sanjung dengan selalu berdo’a agar Allooh menerima amal para pencetusnya.
Adapun kesalahan dan kekeliruan, pasti akan ada sebab manusia tidak terlepas dari hal itu, karenanya pula perlu penyempurna’an lebih lanjut atas upaya-upaya yang telah di rintis oleh Syaikh al-Albany tersebut.

Dalam penyajian rubrik ini, kami tidak memuat semua apa yang di tulis dan di presentasikan oleh Syaikh al-Albany di dalam bukunya tersebut, sebab akan terlalu panjang, di samping ada hal-hal yang bersifat teoritis hadits yang kiranya akan menyulitkan bagi orang awam dan pemula. Tujuan kami di sini, hanyalah ingin mengingatkan dan memberikan wawasan kepada para pembaca bahwa hadits-hadits tersebut adalah lemah (Dho’if) yang para Ulama’ sepakat untuk tidak menjadikannya sebagai hujjah dalam agama, kecuali terkait dengan hadits-hadits Dho’if dalam hal Fadlâ`il al-A’mâl (amalan-amalan ekstra yang bernilai lebih/utama) yang memang ada di antara para Ulama’ memberikan persyaratan-persyaratan tertentu untuk mengamalkannya.

Terlepas dari hal itu, setidaknya apa yang kami muat ini kiranya dapat menjadi bekal bagi para pembaca untuk lebih berhati-hati di dalam menjalankan agama dan barangkali juga bisa mengingatkan orang-orang yang belum mengetahuinya.
Rosulullooh SAW., bersabda
“Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir (ghaib).”

Semoga amal ibadah dan niat kita senantiasa kita lakukan semata-mata untuk mendapatkan Ridho-Nya dan bernilai ikhlash,
Aamiin…


1. HADITS PERTAMA:
الدِّيْنُ هُوَ اْلعَقْلُ، وَمَنْ لاَ دِيْنَ لَهُ، لاَ عَقْلَ لَهُ
“Agama itu adalah akal, dan siapa yang tidak memiliki agama, maka berarti dia tidak berakal.”

KUALITAS HADITS:

Kualitas hadits ini adalah BATHIL

Takhrij Singkat:

Redaksi seperti ini di keluarkan oleh Imam an-Nasa`iy di dalam kitab “al-Kuna” dan juga di keluarkan darinya oleh ad-Dûlâby di dalam kitab “al-Kuna wa al-Asmâ`” dari Abu Malik, Bisyr bin Ghâlib bin Bisyr bin Ghâlib dari az-Zuhry dari Mujammi’ bin Jariyah dari pamannya secara marfu’ dengan tanpa dimulai dengan kalimat pertama di atas “ad-Dîn Huwa al-‘Aql” .

Pendapat Para Ulama’ Hadits:

1. Imam an-Nasa`iy, “Ini adalah hadits Bathil dan Munkar.”
2. Ibn Hajar (ketika mengomentari lebih kurang 30-an hadits tentang ke utamaan akal yang di keluarkan oleh al-Hârits bin Abi Usâmah di dalam musnadnya) berkata: “Semuanya Mawdlu’”
3. Ibn al-Qoyyim, “Hadits-hadits tentang akal semuanya adalah dusta.”

Komentar Syaikh al-Albany:

Alasan kelemahan hadits ini adalah pada salah seorang periwayatnya yang bernama Bisyr karena dia seorang periwayat yang Majhûl (anonim) sebagaimana di katakan oleh al-Azdy dan di setujui oleh Imam adz-Dzahaby di dalam kitabnya Mîzân al-I’tidâl Fî Naqd ar-Rijâl dan Ibn Hajar al-‘Asqalâny di dalam bukunya Lisân al-Mîzân.

Semua hadits-hadits yang berkena’an dengan ke utama’an akal tidak ada satupun yang shohih, sehingga berkisar antara kualitas Dho’if dan Mawdlu’ (Palsu).
Hadits-hadits seperti ini banyak terkoleksi di dalam buku “al-‘Aql wa Fadl-luhu” karya Abu Bakar bin Abu ad-Dun-ya atau yang lebih di kenal dengan Ibn Abi ad-Dun-ya bahkan beliau mengkritik diamnya pentashih buku tersebut, Syaikh Muhammad Zâhid al-Kautsary atas riwayat-riwayat yang kualitasnya demikian.

(SUMBER: Silsilah al-Ahâdîts adl-Dho’îfah karya Syaikh al-Albany, no.1, h.53-54)


Walloohu A’lam.
  ___/|\___
¨¨¨˜°°˜¨¨¨