Senin, 26 Agustus 2019

Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-1



Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-1
(yang sering di ucapkan atau di dengar)
Mukaddimah:

Yang di maksud dengan HADITS MASYHUR di sini bukan sebagaimana definisinya di dalam Ilmu Mushthalah Hadits, yaitu hadits yang merupakan bagian dari hadits Ahad dan mata rantai periwayatnya dari jenjang pertama hingga terakhir (pengarang buku) berjumlah 3 sampai 9 orang pada setiap levelnya.
Akan tetapi yang di maksud di sini adalah Hadits-hadits yang masyhur (tersohor) karena sering di ucapkan oleh lisan atau sering di dengar, terutama oleh para penceramah. Alias sudah menjadi buah bibir dan di sampaikan dari mulut ke mulut.

Dalam hal ini, para Ulama’ banyak yang menulis buku jenis ini karena sangat penting sekali di ketahui oleh umat.
Hadit-hadits yang ada di dalamnya bervariasi baik dari aspek kualitas maupun tema di mana ia sering di bicarakan orang dan di dengar. Masalahnya, ketika seseorang mengucapkannya atau menukilnya, dia seakan mengatas namakan Rosulullooh alias bahwa ia adalah sabda beliau.

Tentu saja, hal ini amat berbahaya bagi Umat karenanya para Ulama’ hadits mengantisipasinya dengan mengarang buku jenis ini hingga dapat memudahkan Umat di dalam mencari hadits-hadits yang kira-kira sering di ucapkan dan di dengar tersebut, terkadang menyatakan kualitasnya.

HADITS PERTAMA:
1. أَبْرِدُوْا بِالطَّعَامِ فَإِنَّ الْحَارَّ لاَ بَرَكَةَ فِيْهِ
“Dinginkanlah makanan, sebab (makanan) yang panas itu tidak ada berkahnya”

SUMBER HADITS:

Hadits tersebut di riwayatkan oleh ad-Daylamy dari Ibnu ‘Umar

KUALITAS HADITS:

Ini adalah ‘HADITS DHO’ÎF’ (Lemah)
Tentang kelemahan hadits ini juga di sebutkan di dalam buku-buku berikut:
  • al-Maqâshid al-Hasanah Fî Bayân Katsîr Min al-Ahâdîts al-Musytahirah ‘Alâ al-Alsinah, karya Imam as-Sakhâwy, hal. 11
  • Tamyîz ath-Thayyib min al-Khabîts Fî m6a yadûru ‘alâ Alsinah an-Nâs Min al-Hadîts, karya ‘Abdurrahman bin ‘Aly bin ad-Dîba’, hal. 5
  • Kasyf al-Khafâ’ wa Muzîl al-Ilbâs ‘Ammâ Isytahara Min al-Ahâdîts ‘Alâ Alsinah an-Nâs, karya al-‘Ajlûny, Jld I, hal. 28
  • Dla’îf al-Jâmi’ wa Ziyâdatuhu, karya Syaikh al-Albany, no. 37
TEMA HADITS:

Ada sementara orang yang memberikan nasehat agar jangan melumat makanan yang masih panas tetapi perlu di tunggu dulu hingga adem/dingin sehingga tidak membahayakan.

Bila sebatas alasan tersebut, maka tidak ada masalah selama tidak menggunakan hadits di atas sebagai dalilnya trus meyakininya. Realitasnya, ada sementara orang pula yang berdalih dengan hadits di atas bahwa makanan yang panas itu tidak memiliki BERKAH padahal kualitas hadits tersebut ‘DHO’IF alias LEMAH…

Para Ulama sepakat bahwa HADITS DHO’IF tidak dapat di jadikan hujjah kecuali di dalam masalah ‘Fadlâ’-il al-A’mâl’ di mana mereka masih berselisih pendapat tentang ‘kebolehan’ menggunakan hadits DHO’IF terhadap masalah tersebut.

Pendapat yang rajih/kuat dan berkenan di hati adalah berlaku secara umum, artinya semua hadits DHO’IF tidak dapat di jadikan sebagai hujjah selama tidak ada pendukung lain yang menguatkan dan mengangkat statusnya.

(Di ambil dari buku ‘ad-Durar al-Muntatsirah Fî al-Ahâdîts al-Musytahirah’, karya Imam as-Suyuthy, (tahqiq/takhrij hadits oleh Syaikh Muhammad Luthfy ash-Shabbagh), hal. 74, hadits no. 51 dengan beberapa penambahan)

Walloohu A’lam.
  ___/|\___
¨¨¨˜°°˜¨¨¨