Yang Perlu Anda Ketahui Dari
Hadits-2
(Mana Yang Paling Shohih Antara
Sunan Abi Daud Dan Sunan an-Nasa`iy)
TANYA:
Dari aspek ke shohihan, mana yang di unggulkan; Sunan Abi Daud atau kah Sunan an-Nasa`iy?
JAWAB:
Bila kita melihat kitab Sunan an-Nasa`iy dengan maksud ia adalah as-Sunan al-Kubra, maka Sunan Abi Daud lebih shohih daripadanya. Sedangkan bila yang di maksud dengan Sunan an-Nasa`iy di sini adalah kitab al-Mujtaba, di sini perlu di diskusikan kembali pendapat tadi.
Bila kita melihat kitab Sunan an-Nasa`iy, maka akan jelas bagi kita bahwa ia (Sunan an-Nasa`iy) yang di namakan dengan al-Mujtaba sekarang ini –yang nampak bagi saya- bukanlah karangan Imam an-Nasa`iy sendiri.
Dari aspek ke shohihan, mana yang di unggulkan; Sunan Abi Daud atau kah Sunan an-Nasa`iy?
JAWAB:
Bila kita melihat kitab Sunan an-Nasa`iy dengan maksud ia adalah as-Sunan al-Kubra, maka Sunan Abi Daud lebih shohih daripadanya. Sedangkan bila yang di maksud dengan Sunan an-Nasa`iy di sini adalah kitab al-Mujtaba, di sini perlu di diskusikan kembali pendapat tadi.
Bila kita melihat kitab Sunan an-Nasa`iy, maka akan jelas bagi kita bahwa ia (Sunan an-Nasa`iy) yang di namakan dengan al-Mujtaba sekarang ini –yang nampak bagi saya- bukanlah karangan Imam an-Nasa`iy sendiri.
Ia merupakan karangan Ibn as-Sunny
yang tidak lain adalah salah seorang periwayat kitab Sunan an-Nasa`iy.
Secara umum, yang di maksud dengan Sunan
an-Nasa`iy adalah as-Sunan al-Kubra. Karena itu, sebagian orang dari
satu sisi, menilai sisi kebagusan hadits-haditsnya atau membuang hadits-hadits
Mawdlu’ (palsu) dan Munkar yang ada pada Sunan an-Nasa`iy yang di sebut al-Mujtaba
alias as-Sunan ash-Shughra sebagaimana yang di katakan sebagian orang,
karena mengira ia merupakan karangan Imam an-Nasa`iy.
Yang menjadi indikasi untuk semua itu, bahwa kitab al-Mujtaba (artinya, ringkasan, intisari-red.,) dari sisi hadits-haditsnya memang lebih bagus (mengesankan) daripada as-Sunan al-Kubra akan tetapi apakah benar Imam an-Nasa`iy yang meringkas/mengintisarinya dari hadits-hadits tersebut (sehingga dinamai al-Mujtaba-red.,) atau orang selain dia?
Yang menjadi indikasi untuk semua itu, bahwa kitab al-Mujtaba (artinya, ringkasan, intisari-red.,) dari sisi hadits-haditsnya memang lebih bagus (mengesankan) daripada as-Sunan al-Kubra akan tetapi apakah benar Imam an-Nasa`iy yang meringkas/mengintisarinya dari hadits-hadits tersebut (sehingga dinamai al-Mujtaba-red.,) atau orang selain dia?
Hal ini akan kami jelaskan sebentar
lagi, insya Allooh.
Yang jelas, bila kita membanding-bandingkan antara al-Mujtaba dan Sunan Abi Daud, maka pembandingan ini –menurut saya- butuh kajian yang serius dan teliti.
Yang jelas, bila kita membanding-bandingkan antara al-Mujtaba dan Sunan Abi Daud, maka pembandingan ini –menurut saya- butuh kajian yang serius dan teliti.
Sebab, sementara orang ada yang
langsung saja menyatakan bahwa Sunan Abi Daud lebih unggul.
Sikap seperti ini banyak di ambil
oleh para Ulama’ terdahulu, setiap orang yang membicarakan Sunan Abi Daud,
pasti ia akan mengunggulkannya atas kitab-kitab lainnya bahkan sebagian mereka
ada yang mengunggulkannya atas Shohih Muslim akan tetapi pendapat ini
tidak benar.
Sebagian orang lagi, khususnya di
zaman sekarang ini, kita menemukan ada orang yang berusaha mengunggulkan Sunan
an-Nasa`iy atas Sunan Abi Daud.
Menurut saya, bila ijtihad-ijtihad seperti ini keluar dari seseorang yang ingin agar ucapannya tepat, maka hendaknya berpijak pada ucapan yang ilmiah atau metode ilmiah yang komprehensif dengan cara melakukan penelitian terhadap Sunan Abi Dauddan Sunan an-Nasa`iyyang bernama al-Mujtaba itu, kemudian melihat jumlah hadits-hadits yang di muat di masing-masing kitab tersebut, lalu jumlah hadits yang di kritisi dari masing-masingnya; berapa persentasenya secara keseluruhan untuk masing-masing kitab.
Menurut saya, bila ijtihad-ijtihad seperti ini keluar dari seseorang yang ingin agar ucapannya tepat, maka hendaknya berpijak pada ucapan yang ilmiah atau metode ilmiah yang komprehensif dengan cara melakukan penelitian terhadap Sunan Abi Dauddan Sunan an-Nasa`iyyang bernama al-Mujtaba itu, kemudian melihat jumlah hadits-hadits yang di muat di masing-masing kitab tersebut, lalu jumlah hadits yang di kritisi dari masing-masingnya; berapa persentasenya secara keseluruhan untuk masing-masing kitab.
Dari situ, akan kita dapatkan
persentase hadits-hadits yang di kritisi di dalam kitab Sunan Abi Dauddan
juga di dalam kitab Sunan an-Nasa`iy.
Selain itu, hadits-hadits yang di kritisi ini juga bisa di klasifikasi lagi antara yang Dho’if, Dho’if Sekali dan Kemungkinan Dho’if (masih fity-fifty).
Selain itu, hadits-hadits yang di kritisi ini juga bisa di klasifikasi lagi antara yang Dho’if, Dho’if Sekali dan Kemungkinan Dho’if (masih fity-fifty).
Masing-masingnya perlu di bubuhkan
berapa persentasenya.
Di samping itu, perlu juga di lihat; apakah pengarang kitab menjelaskan dan mengomentari hadits-hadits yang di kritisi tersebut atau kah tidak?
Di samping itu, perlu juga di lihat; apakah pengarang kitab menjelaskan dan mengomentari hadits-hadits yang di kritisi tersebut atau kah tidak?
Sebab, Abu Daud dan an-Nasa`iy ada
mengomentari sebagian hadits.
Kemudian, di lihat pula berapa
persentase komentar yang di keluarkan masing-masing pengarang kitab terhadap hadits-hadits
yang di kritisi tersebut.
Setelah itu, barulah kita dapat
mengeluarkan gambaran yang jelas melalui penelitian yang seksama, apakah Sunan
Abi Daudyang lebih bagus (mengesankan) atau kah sebaliknya?
Inilah pendapat saya mengenai hal
ini.
(SUMBER: Fataawa Hadiitsiyyah karya Syaikh Sa’d bin ‘Abdullah Al Humaid, Juz.I, h.106-107)
(SUMBER: Fataawa Hadiitsiyyah karya Syaikh Sa’d bin ‘Abdullah Al Humaid, Juz.I, h.106-107)
Walloohu A’lam.
___/|\___
¨¨¨˜°♥°˜¨¨¨
