YANG PERLU ANDA KETAHUI DARI
HADITS-6
(Bagaimana Cara Mengenali Seorang
Shahabat?)
TANYA:
Bagaimana kita mengenali seorang shahabat?
JAWAB:
Kita mengenalinya melalui salah satu dari hal-hal berikut:
1. Tawaatur (Pemberita’an tentangnya secara mutawatir alias mustahil terjadi kebohongan karena banyaknya periwayat terpercaya menyatakan hal itu);
Bagaimana kita mengenali seorang shahabat?
JAWAB:
Kita mengenalinya melalui salah satu dari hal-hal berikut:
1. Tawaatur (Pemberita’an tentangnya secara mutawatir alias mustahil terjadi kebohongan karena banyaknya periwayat terpercaya menyatakan hal itu);
Apakah ada orang yang meragukan Abu
Bakar dan ‘Umar bin al-Khoththob RA sebagai shahabat?
Jawabannya, tentu, tidak.!
2. Syuhrah (Ketenaran) dan banyaknya riwayat yang mengisahkannya melalui beberapa hal.
2. Syuhrah (Ketenaran) dan banyaknya riwayat yang mengisahkannya melalui beberapa hal.
Contohnya:
a. Dhimaam bin Tsa’lbah RA yang tenar dengan hadits kedatangannya menemui Nabi SAW
b. ‘Ukasyah bin Mihshan RA yang kisahnya di jadikan permisalan/pepatah (yaitu ucapan Rosulullooh SAW, “Sabaqoka ‘Ukaasyah’ ; ‘Ukasyah sudah terlebih dulu darimu-red).*
3. Di muatnya hal itu dalam hadits yang shohih, seperti ada salah satu hadits menyebutkan bahwa Nabi SAW di datangi oleh si fulan bin fulan atau hadits tersebut bersambung sanadnya kepada seorang laki-laki yang menginformasikan bahwa si fulan termasuk orang-orang yang mati syahid dalam perang bersama Rosulullah SAW.
a. Dhimaam bin Tsa’lbah RA yang tenar dengan hadits kedatangannya menemui Nabi SAW
b. ‘Ukasyah bin Mihshan RA yang kisahnya di jadikan permisalan/pepatah (yaitu ucapan Rosulullooh SAW, “Sabaqoka ‘Ukaasyah’ ; ‘Ukasyah sudah terlebih dulu darimu-red).*
3. Di muatnya hal itu dalam hadits yang shohih, seperti ada salah satu hadits menyebutkan bahwa Nabi SAW di datangi oleh si fulan bin fulan atau hadits tersebut bersambung sanadnya kepada seorang laki-laki yang menginformasikan bahwa si fulan termasuk orang-orang yang mati syahid dalam perang bersama Rosulullah SAW.
Atau informasi apa saja dengan cara
tertentu bahwa orang ini atau itu sudah terbukti Shuhbah-nya (bertemu
dan beriman dengan Rosulullooh SAW dan mati dalam kondisi itu).
4. Penuturan tertulis dari seorang Tabi’i (generasi setelah shahabat) bahwa si fulan adalah seorang shahabat. Yaitu seperti ia mengucapkan, “Aku mendengar salah seorang shahabat Nabi SAW, yaitu si fulan bin fulan.”
5. Penuturan shahabat itu sendiri bahwa ia bertemu Nabi SAW, seperti perkata’annya:
4. Penuturan tertulis dari seorang Tabi’i (generasi setelah shahabat) bahwa si fulan adalah seorang shahabat. Yaitu seperti ia mengucapkan, “Aku mendengar salah seorang shahabat Nabi SAW, yaitu si fulan bin fulan.”
5. Penuturan shahabat itu sendiri bahwa ia bertemu Nabi SAW, seperti perkata’annya:
“Aku mendengar Nabi SAW bersabda
begini dan begitu.
Atau: “Sesungguhnya aku termasuk
orang-orang yang menemani (bershahabat) dengan Nabi SAW.
Tetapi hal ini perlu beberapa
syarat, di antaranya:
a. Ia seorang yang adil pada dirinya
b. Klaimnya tersebut memungkinkan; bila kejadian ia mengklaim hal itu sebelum tahun 110 H maka ini memungkinkan sedangkan bila ia mengklaimnya setelah tahun 110 H, maka klaimnya tersebut tertolak sebab Nabi SAW telah menginformasikan di akhir hayatnya:
a. Ia seorang yang adil pada dirinya
b. Klaimnya tersebut memungkinkan; bila kejadian ia mengklaim hal itu sebelum tahun 110 H maka ini memungkinkan sedangkan bila ia mengklaimnya setelah tahun 110 H, maka klaimnya tersebut tertolak sebab Nabi SAW telah menginformasikan di akhir hayatnya:
“Tidakkah aku melihat kalian pada
malam ini?
“Sesungguhnya di atas 100 tahun
kemudian (dari malam ini), tidak ada lagi seorang pun yang tersisa di atas muka
bumi ini.
(HR.al-Bukhori, I:211, No.116; Muslim,
No.2537; Abu Daud, No.348)
Ini merupakan argumentasi paling kuat terhadap orang yang mengklaim Nabi Khidhir masih hidup hingga sa’at ini segaimana klaim kaum Sufi di mana salah satu dari mereka sering mengaku telah bertemu nabi Khidhir dan berbicara secara lisan dengannya.!?
Intermezzo
Seorang laki-laki India bernama Rotan pada abad VI mengaku bahwa dirinya adalah shahabat Nabi SAW dan dia telah di panjangkan umurnya hingga tanggal tersebut.
Ini merupakan argumentasi paling kuat terhadap orang yang mengklaim Nabi Khidhir masih hidup hingga sa’at ini segaimana klaim kaum Sufi di mana salah satu dari mereka sering mengaku telah bertemu nabi Khidhir dan berbicara secara lisan dengannya.!?
Intermezzo
Seorang laki-laki India bernama Rotan pada abad VI mengaku bahwa dirinya adalah shahabat Nabi SAW dan dia telah di panjangkan umurnya hingga tanggal tersebut.
Kejadian itu sempat menggemparkan masyarakat
kala itu. Maka, para Ulama’ pada masanya atau pun setelahnya membantah
pengakuannya tersebut.
Di antaranya, al-Hafizh adz-Dzahabi
dalam bukunya yang berjudul “Kasr Watsan Rotan.”
* Pepatah tersebut di ungkapkan orang Arab untuk menyatakan ketidak beruntungann seseorang dalam memperoleh sesuatu karena sudah ada orang lain yang lebih dahulu memperolehnya.
* Pepatah tersebut di ungkapkan orang Arab untuk menyatakan ketidak beruntungann seseorang dalam memperoleh sesuatu karena sudah ada orang lain yang lebih dahulu memperolehnya.
Seperti misalnya, bila ada seseorang
memberikan hadiah kepada seseorang yang bisa menjawab pertanya’annya, lalu ada
yang menjawabnya sedangkan hadiah itu hanya untuk satu orang saja.
Kemudian ada orang lain meminta di beri
pertanya’an lagi agar dapat menjawabnya dan memperoleh hadiah.
Maka orang yang memberikan itu tadi,
mengatakan kepadanya pepatah tersebut.
Artinya, terlambat, si fulan sudah
terlebih dahulu (kamu sudah keduluan sama si fulan.!!).
(SUMBER: Fataawa Hadiitsiyyah, Syaikh Sa’d bin ‘Abdullah Alu Humaid, hal.30-31)
(SUMBER: Fataawa Hadiitsiyyah, Syaikh Sa’d bin ‘Abdullah Alu Humaid, hal.30-31)
Walloohu A’lam.
___/|\___
¨¨¨˜°♥°˜¨¨¨
