Silsilah Hadits-Hadits Dho'if
Pilihan-5
[Barang siapa Yang Tidur Setelah
'Ashar...]
(Karya Syaikh al-Albani)
Mukaddimah:
Selama ini barangkali banyak di antara kita yang masih beranggapan bahwa tidur setelah ‘Ashar tidak di bolehkan dengan berpegang kepada hadits ini.
Nah, benarkah demikian?
Selama ini barangkali banyak di antara kita yang masih beranggapan bahwa tidur setelah ‘Ashar tidak di bolehkan dengan berpegang kepada hadits ini.
Nah, benarkah demikian?
Apakah hadits tersebut dapat di pertanggung
jawabkan?
Berikut penjelasannya!
Naskah Hadits:
Naskah Hadits:
مَنْ ناَمَ بَعْدَ اْلعَصْرِ
فَاخْتُلِسَ عَقْلُهُ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ
“Barang siapa yang tidur setelah
‘Ashar, lalu akalnya di curi (hilang ingatan), maka janganlah sekali-sekali ia
mencela selain dirinya sendiri.”
Kualitas Hadits:
Hadits ini DHO’IF (LEMAH).
Takhrij Hadits:
Hadits ini di keluarkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitabnya adh-Dhu’afaa’ Wa al-Majruuhiin (I:283) melalui jalur Kholid bin al-Qosim, dari al-Layts bin Sa’d, dari ‘Uqail, dari az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah secara Marfu’.
Ibnu al-Jawzi juga mengemukakan hadits ini di dalam kitabnya al-Mawdhuu’aat (III:69), ia berkata, “Tidak SHOHIH, Kholid seorang pembohong.
Kualitas Hadits:
Hadits ini DHO’IF (LEMAH).
Takhrij Hadits:
Hadits ini di keluarkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitabnya adh-Dhu’afaa’ Wa al-Majruuhiin (I:283) melalui jalur Kholid bin al-Qosim, dari al-Layts bin Sa’d, dari ‘Uqail, dari az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah secara Marfu’.
Ibnu al-Jawzi juga mengemukakan hadits ini di dalam kitabnya al-Mawdhuu’aat (III:69), ia berkata, “Tidak SHOHIH, Kholid seorang pembohong.
Hadits ini di riwayatkan oleh Ibn
Lahii’ah yang mengambilnya dari Kholid lalu menisbatkannya kepada al-Layts.
Imam as-Suyuthi di dalam al-La’aali (II:150) berkata, “al-Hakim dan periwayat lainnya mengatakan:
Imam as-Suyuthi di dalam al-La’aali (II:150) berkata, “al-Hakim dan periwayat lainnya mengatakan:
“Kholid hanya menyisipkan nama
al-Layts dari hadits Ibn Lahii’ah.”
Kemudian as-Suyuthi menyebutkannya dari jalur Ibn Lahii’ah, terkadang ia berkata:
Kemudian as-Suyuthi menyebutkannya dari jalur Ibn Lahii’ah, terkadang ia berkata:
“Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari
ayahnya, dari kakeknya secara marfu’.” Terkadang ia berkata:
“Dari Ibn Syihab (az-Zuhri-red),
dari Anas secara marfu’.
Ibn Lahii’ah dinilai Dho’if karena hafalannya, ia juga meriwayatkan dari jalur lain: di keluarkan oleh Ibn ‘Adi dalam al-Kaamil (I:211); as-Sahmi di dalam Taarikh Jurjaan (53), darinya (Ibn Lahii’ah), dari ‘Uqail, dari Makhul secaa marfu’ dan mursal.
Ibn Lahii’ah dinilai Dho’if karena hafalannya, ia juga meriwayatkan dari jalur lain: di keluarkan oleh Ibn ‘Adi dalam al-Kaamil (I:211); as-Sahmi di dalam Taarikh Jurjaan (53), darinya (Ibn Lahii’ah), dari ‘Uqail, dari Makhul secaa marfu’ dan mursal.
Ke duanya (Ibn ‘Adi dan as-Sahmi mengeluarkannya
dari jalur Marwan, yang berkata:
“Aku bertanya kepada al-Layts bin
Sa’d – karena aku pernah melihatnya tidur setelah ‘Ashar di bulan Ramadhan:
“Wahai Abu al-Harits!
“Kenapa kamu tidur setelah ‘Ashar
padahal Ibn Lahii’a telah meriwayatkan hadits seperti itu kepada kita…
[Marwan kemudian menyebutkan teks
hadits di atas].
Maka al-Layts menjawab:
“Aku tidak akan meninggalkan sesuatu
yang berguna bagiku hanya karena hadits Ibn Lahii’ah dari ‘Uqail.!”
Kemudian Ibn ‘Ad juga meriwayatkan dari jalur Manshur bin ‘Ammar, ia berkata:
Kemudian Ibn ‘Ad juga meriwayatkan dari jalur Manshur bin ‘Ammar, ia berkata:
“Ibn Lahii’ah menceritakan kepada
kami’, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya.’
Hadits tersebut juga di riwayatkan oleh Abu Ya’la dan Abu Nu’aim di dalam ath-Thibb an-Nabawi (II:12), dari ‘Amr bin al-Hushain, dari Ibn ‘Ilaatsah, dari al-Awza’i, dari az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah secara marfu’.
Hadits tersebut juga di riwayatkan oleh Abu Ya’la dan Abu Nu’aim di dalam ath-Thibb an-Nabawi (II:12), dari ‘Amr bin al-Hushain, dari Ibn ‘Ilaatsah, dari al-Awza’i, dari az-Zuhri, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah secara marfu’.
“Amr bin al-Hushain ini adalah
seorang pembohong sebagaimana yang di katakan al-Khothib dan Ulama’ hadits
lainnya. ia periwayat hadits lain tentang ke utama’an ‘Adas (sejenis makanan.
Kualitas hadits ini adalah palsu.
Lihat: silsilah al-Ahaadits adh-Dho’iifah
Wa al-Mawdhuu’ah karya Syaikh al-Albani, no.40, Jld.I, hal.114-red)
Komentar Syaikh al-Albani:
Saya sangat terpukau dengan jawaban al-Layts tersebut di mana hal itu menunjukkan ke faqihan dan ke ilmuannya.
Komentar Syaikh al-Albani:
Saya sangat terpukau dengan jawaban al-Layts tersebut di mana hal itu menunjukkan ke faqihan dan ke ilmuannya.
Tentunya, tidak aneh sebab ia
termasuk salah satu dari ulama tokoh kaum Muslimin dan seorang ahli fiqih yang
terkenal.
Dan saya tahu persis, banyak syaikh-syaikh sa’at ini yang enggan untuk tidur setelah ‘Ashar sekali pun mereka membutuhkan hal itu.
Dan saya tahu persis, banyak syaikh-syaikh sa’at ini yang enggan untuk tidur setelah ‘Ashar sekali pun mereka membutuhkan hal itu.
Jika di katakan kepadanya bahwa
hadits mengenai hal itu adalah Dho’if (lemah), pasti ia langsung menjawab:
“Hadits Dho’if boleh di amalkan
dalam Fadho’il al-A’maal (amalan-amalan yang memiliki ke utama’an).!”
Karena itu, renungkanlah perbeda’an antara ke faqihan Salaf (generasi terdahulu) dan ke ilmuan Kholaf (generasi yang datang setelah mereka dan lebih di identikkan dengan mereka yang pemahamannya, khususnya dari sisi ‘Aqidah bertolak belakang dengan Salaf.-red).
(SUMBER: Silsilah al-Ahaadiits adl-Dho’iifah Wa al-Mawdluu’ah Wa Atsaruha as-Sayyi` Fii al-Ummah karya Syaikh al-Albani, Jld.I, hal.113-114, no.39, dengan sedikit perubahan)
Karena itu, renungkanlah perbeda’an antara ke faqihan Salaf (generasi terdahulu) dan ke ilmuan Kholaf (generasi yang datang setelah mereka dan lebih di identikkan dengan mereka yang pemahamannya, khususnya dari sisi ‘Aqidah bertolak belakang dengan Salaf.-red).
(SUMBER: Silsilah al-Ahaadiits adl-Dho’iifah Wa al-Mawdluu’ah Wa Atsaruha as-Sayyi` Fii al-Ummah karya Syaikh al-Albani, Jld.I, hal.113-114, no.39, dengan sedikit perubahan)
Walloohu A’lam.
___/|\___
¨¨¨˜°♥°˜¨¨¨
