Senin, 26 Agustus 2019

Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-11



Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-11
(Aku Adalah Kota Ilmu Sedangkan ‘Ali Adalah Pintunya)
Mukaddimah

Ada sementara kelompok agama yang sikapnya berlebihan terhadap Ahli Bait, terutama ‘Ali, berdalil dengan hadits ini (yang akan kita bahas) atas kebenaran pendapat mereka bahwa ‘Ali adalah pintu ilmu, karena itu siapa saja yang ingin memasuki rumah, maka harus lewat pintunya dan –kata mereka- satu-satunya pintu itu adalah ‘Ali, sehingga bila bukan melaluinya, maka tidak sah.

Kalau pun kualitas hadits ini di anggap shohih (padahal tidak demikian seperti yang akan di paparkan nanti), maka tidaklah berarti ia satu-satunya pintu itu, tetapi menurut para Ulama’, hanya merupakan salah satu dari pintu-pintu ilmu.

Memang tidak di ragukan lagi, bahwa ‘Ali merupakan Ulama’ kalangan para shahabat dan memiliki banyak ke utama’an tetapi bukan karena itu, lantas di lebih-lebihkan (bagi kalangan Ghulaat/ekstrem mereka sampai di-Tuhankan, na’uudzu billaahi min dzaalik).
Apalagi bila di dasari atas riwayat yang tidak dapat di pertanggung jawabkan.

Teks seperti ini juga merupakan bagian (baca: lirik) dari salah satu lantunan seorang penyanyi dalam salah satu serialnya yang di katakannya ‘Islaami’ di mana ia nampaknya penganut pendapat di atas.

Teks Hadits:
أَنَا مَدِيْنَةُ اْلعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا
“Aku (Rosulullooh) adalah kota ilmu dan ‘Ali adalah pintunya.”

Hadits ini di riwayatkan oleh at-Turmudzy dari hadits ‘Ali seraya berakata, “Hadits Munkar.
Hadits ini juga di ngkari oleh al-Bukhory.
Di samping itu, juga di riwayatkan oleh al-Hakim di dalam kitab al-Mustadrak dari hadits Ibn ‘Abbas.
Ia mengomentari, “Hadits Shohih.
Namun Imam adz-Dzahaby berkata:
“Bahkan ia hadits Mawdlu’ (Palsu).
Abu Zur’ah berkata:
“Alangkah banyaknya orang yang menyingkap boroknya.”
Ad-Daruquthny berkata, “Tidak valid.”
Ibn Daqiq al-Ied berkata:
“Mereka (Ulama’ hadits) tidak menilainya valid.
Bahkan Ibn al-Jawzy memuatnya di dalam kitabnya al-Mawdluu’a’at (kitab yang khusus berisi hadits-hadits Mawdlu’).

Al-Hafizh Abu Sa’id al-‘Alaa`iy berkata:
“Yang benar, bahwa ia hadits Hasan bila di lihat dari jalur-jalurnya, tidak shohih dan juga tidak Dho’if apalagi di katakan Mawdlu’ (palsu).”

Menurutku (Imam as-Suyuthiy, pengarang buku rujukan dalam kajian kita ini):
“Memang demikian yang di katakan Syaikhul Islam Ibn Hajar (al-Haitsamy-red.,) dalam fatwanya.
Ucapan al-‘Alaa`iy dan Ibn Hajar tersebut telah saya paparkan panjang lebar di dalam kitab saya at-Ta’aqqubaat yang menyanggah statement yang terdapat di dalam kitab al-Mawdluaa’aat tersebut.

Pendapat Syaikh Muhammad Luthfi
ash-Shabbaagh, Penahqiq (peneliti) buku:


Ini hadits MAWDLU’ (PALSU), untuk itu silahkan lihat:
- al-Maqooshid al-Hasanah karya as-Sakhawy, h.97
- TamyÎz ath-Thayyib Min al-Khobiits… karya Ibn ad-Dubai’, h.33
- Kasyf al-Khofaa` karya al-‘Ajluny, Jld.I, h.203
- Al-Mawdluu’aat karya Ibn al-Jawzy, Jld.I, h.439
- Al-La`aaly, Jld.I, h.329
- Tanziih asy-Syari’ah, Jld.I, h.377
- Ahaadiits al-Qushshoosh, h.15
- Al-Fawaa`id karya al-Karmy, h.57
- Al-Fawaa`id karya asy-Syawkany, h.348-354
- Al-Asroor, h.71
- Tadzkirah al-Mawdluaa’aat, h.95
- Al-Fataawa al-Hadiitsiyyah, h.126
- Miizaan al-I’tidaal, Jld.II, h.251
- Asna al-Mathaalib, h.72
- Tuhfah al-Ahwadzy, Jld.IV, h.329
- Al-Mustadrak, Jld.III, h.126 (telah di nilai shohih oleh al-Haakim namun kemudian di telusuri jalurnya oleh Imam adz-Dzahaby yang berkomentar: “Bahkan hadits Mawdlu’.
Ia (al-Haakim) mengatakan: “Abu ash-Shalt [salah seorang periwayat hadits] adalah seorang yang Tsiqah, Ma`mun. Menurutku (ad-Dzahaby), “Demi Allooh, ia bukan Tsiqah dan bukan pula Ma`mun.”)
- Dho’if al-Jami’ ash-Shoghiir karya Syaikh al-Albany, no.1322
- Al-Kaamil karya Ibn ‘Ady, Jld.I, h.193
- Adl-Dhu’afaa` karya al-‘Uqaily, Jld.III, h.150
- Majma’ az-Zawaa`id, Jld.IX, h.114
(SUMBER: ad-Durar al-Muntatsiarah Fi al-Ahaadiits al-Masyhuurah karya Imam as-Suyuthy, tahqiq, Syaikh Muhammad Luthfy ash-Shhabbaagh, h.70, hadits no.38)

TAMBAHAN DARI REDAKSI:

Dalam teks yang kami temukan di sunan at-Turmudzy tertulis:
أَنَا دَارُ اْلحِكْمَةِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا
“Aku (Rosulullooh) adalah Daar (rumah) ilmu dan ‘Ali adalah pintunya.”
Jadi, bukan seperti teks hadits dalam buku rujukan kita di atas, barangkali ada teks lain di selain sembilan kitab hadits induk (al-Kutub at-Tis’ah).

Mengenai teks ini, at-Turmudzy mengatakan: “Hadits Ghorib Munkar.”
Ath-Thiby mengatakan:
“Sepertinya orang-orang Syi’ah berpegang pada permisalan ini bahwa mengambil ilmu dan hikmah dari beliau SAW adalah khusus buat ‘Ali, tidak seorang pun boleh melakukannya kecuali melalui perantara’annya sebab rumah hanya bisa di masuki dari pintunya di mana Allooh berfirman:
“Dan masukilah rumah-rumah tersebut dari pintu-pintunya.
Padahal sebenarnya itu sama sekali tidak dapat menjadi hujjah bagi mereka sebab Daar al-Jannah (Rumah surga) sendiri tidak seluas Daar (rumah) hikmah, sekali pun begitu, ia memiliki 8 pintu.
(Artinya, dari arah mana saja dari ke-delapan pintu itu bisa masuk, tidak mesti satu pintu sebagaimana klaim Syi’ah tersebut-red.,)

Al-Qoory mengatakan:
 “Ali adalah salah satu dari pintu-pintunya (pintu hikmah).
Akan tetapi adanya pengkhususan itu mengandung semacam pengagungan (penghormatan) di mana ia memang demikian bila di banding dengan sebagian shahabat dari sisi ke agungan dan ilmu.
Di antara hal yang menunjukkan bahwa posisi para shahabat semuanya sebagai pintu-pintu adalah hadits Nabi SAW:
“Para shahabatku adalah seperti bintang-gemintang
“Siapa pun yang kalian ikuti, pasti kalian mendapat petunjuk.
Yaitu sebagai isyarat perbeda’an tingkatan cahayanya di dalam mendapatkan petunjuk itu.
Indikatornya, para Tabi’in mengambil semua ilmu syari’at seperti baca’an, tafsir, hadits, fiqih dari para shahabat lain selain ‘Ali juga. Dengan begitu, dapat di ketahui bahwa pintu itu tidak khusus miliknya semata, kecuali dalam satu pintu, yaitu masalah qodho’ sebab memang ada hadits mengenai dirinya seperti itu, yang berbunyi, ‘Ia (‘Ali) adalah orang yang paling mengerti qodho di antara kamu.’
Sama seperti yang di katakan kepada Ubay bahwa ia adalah ‘orang yang paling bagus baca’annya di antara kamu
 Zaid bin Tsabit sebagai yang ‘paling mengerti masalah faro’idh di antara kamu.
Dan Mu’adz bin Jabal sebagai yang ‘paling mengerti masalah halal dan haram di antara kamu.

Tapi sayang, berdalil dengan hadits “Para shahabatku adalah seperti bintang-gemintang…” juga tidak tepat, sebab menurut pensyarah sunan at-Turmudzy, al-Mubarakfury yang menukil dari Ibn Hajar bahwa hadits tentang ‘para shahabatku adalah seperti bintang-gemintang…’ itu tidak shohih, sangat lemah bahkan Ibn Hazm menilainya sebagai hadits Mawdlu’.
Al-Baihaqy mengetengahkan hadits Dho’if lainnya yang senada dengan itu lalu mengatakan bahwa bisa saja di jadikan perumpama’an dalam hal mereka itu (para shahabat) adalah seperti bintang tetapi tidak dalam memberi petunjuk.
Dan hal ini sesuai dengan makna hadits shohih yang di riwayatkan Muslim, isinya:
Bintang-gemintang adalah amanah langit
“Bila bintang-gemintang itu hilang maka akan datanglah apa yang di janjikan kepada ahli langit.
Pendapat al-Baihaqy ini di dukung oleh Ibn Hajar sekali pun beliau menegaskan bahwa makna zhahir hadits yang ada di shohih Muslim itu (hanya) berbicara tentang fitnah yang akan terjadi setelah berakhirnya masa shahabat, yaitu dengan munculnya berbagai bid’ah dan perbuatan-perbuatan keji di seluruh muka bumi.” (alias tidak terkait dengan makna ke dua hadits lemah di atas-red.,)
(Lihat, Tuhfah al-Ahwadzy Syarh Sunan at-Turmudzy karya al-Mubaarakfuury, terkait dengan syarah hadits di atas)

Kesimpulan:
- Bahwa kualitas hadits tersebut adalah MAWDLU’ sebagaimana yang di analisis oleh Syaikh Muhammad Luthfi ash-Shabbaagh.
- Bahwa ‘Ali memang memiliki ke dudukan lebih dari sebagian para shahabat dari sisi ke agungan dan ilmu, tetapi tidak bisa di katakan bahwa karena itu, ia lah satu-satunya pintu ilmu, apalagi dengan klaim karena hal itu telah di khususkan Nabi SAW kepadanya, terlebih lagi, bila dalilnya hadits di atas.


Walloohu A’lam.
  ___/|\___
¨¨¨˜°°˜¨¨¨